
Tubuh terasa seperti kehilangan tenaga, padahal aktivitas tidak terlalu berat? Rasa lemas yang muncul sesekali mungkin hanya tanda tubuh membutuhkan istirahat. Namun, jika kondisi tersebut berulang, berlangsung lama, atau mulai mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, ada baiknya tidak langsung menganggapnya sebagai akibat kurang tidur.
Lemas merupakan keluhan yang sangat umum dan penyebabnya beragam. Pola tidur yang buruk, kurang makan, stres, dehidrasi, hingga kondisi medis tertentu dapat membuat energi tubuh terasa menurun. Karena penyebabnya tidak selalu terlihat dari luar, pemeriksaan laboratorium dapat membantu dokter mencari petunjuk yang lebih objektif.
Pemeriksaan bukan berarti semua orang yang merasa lemas harus menjalani seluruh jenis tes darah. Primasehatku menjelaskan jenis pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan gejala, riwayat kesehatan, pola hidup, serta hasil pemeriksaan fisik.
Lemas Berbeda dengan Mengantuk
Sebelum melakukan pemeriksaan, penting memahami keluhan yang dirasakan.
Mengantuk lebih berkaitan dengan dorongan untuk tidur. Sementara itu, lemas dapat berupa sensasi tubuh tidak bertenaga atau merasa sulit menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Ada pula istilah fatigue yang menggambarkan rasa kelelahan fisik atau mental yang tidak selalu membaik hanya dengan tidur.
Membedakan keluhan tersebut dapat membantu dokter menentukan pemeriksaan yang lebih sesuai.
1. Darah Lengkap untuk Melihat Kondisi Sel Darah
Salah satu pemeriksaan yang mungkin dipertimbangkan adalah complete blood count atau pemeriksaan darah lengkap.
Tes ini dapat memberikan informasi mengenai sel darah merah, hemoglobin, hematokrit, sel darah putih, dan trombosit.
Kadar hemoglobin yang rendah, misalnya, dapat mengarah pada anemia. Anemia dapat membuat seseorang mudah lelah, lemas, pucat, atau mengalami sesak ketika beraktivitas.
Namun, anemia sendiri memiliki banyak penyebab sehingga hasil darah lengkap yang tidak normal biasanya membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk menemukan penyebabnya.
2. Pemeriksaan Gula Darah
Gangguan kadar gula darah juga dapat berkaitan dengan perubahan energi tubuh.
Gula darah yang terlalu rendah dapat menyebabkan lemas, gemetar, berkeringat, lapar, atau sulit berkonsentrasi.
Sebaliknya, kadar gula darah yang tinggi, terutama jika berlangsung dalam waktu lama, dapat disertai rasa mudah lelah, sering haus, dan lebih sering buang air kecil.
Dokter dapat memilih pemeriksaan seperti gula darah puasa, gula darah sewaktu, atau HbA1c berdasarkan kondisi yang sedang dinilai.
3. Pemeriksaan Fungsi Tiroid
Kelenjar tiroid berperan dalam mengatur metabolisme tubuh. Gangguan fungsi tiroid dapat memengaruhi energi dan berbagai fungsi lainnya.
Pada hipotiroidisme, seseorang dapat mengalami mudah lelah, merasa kedinginan, berat badan bertambah, kulit lebih kering, atau mengalami perubahan pola buang air besar.
Sementara itu, hipertiroidisme dapat menimbulkan keluhan berbeda, seperti jantung berdebar, mudah berkeringat, berat badan menurun, dan sulit tidur.
Jika gejala mengarah ke gangguan tiroid, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan TSH dan hormon tiroid tertentu.
4. Pemeriksaan Elektrolit
Cairan tubuh mengandung berbagai elektrolit seperti natrium dan kalium yang diperlukan untuk menjalankan fungsi saraf dan otot.
Ketidakseimbangan elektrolit dapat terjadi akibat berbagai kondisi, termasuk muntah atau diare berkepanjangan, penggunaan obat tertentu, maupun penyakit tertentu.
Gejalanya dapat berupa lemas, kram, mual, kebingungan, atau gangguan irama jantung pada kondisi yang lebih berat.
Pemeriksaan elektrolit dapat membantu dokter mengetahui apakah terdapat gangguan keseimbangan mineral dalam darah.
5. Pemeriksaan Fungsi Ginjal
Ginjal memiliki tugas penting dalam menyaring darah dan menjaga keseimbangan cairan serta berbagai zat di dalam tubuh.
Jika fungsi ginjal mengalami gangguan, seseorang pada kondisi tertentu dapat mengalami kelelahan, perubahan urine, pembengkakan, mual, atau perubahan nafsu makan.
Pemeriksaan darah seperti kreatinin dan perhitungan eGFR dapat digunakan untuk menilai fungsi penyaringan ginjal. Pemeriksaan urine juga dapat memberikan informasi tambahan.
6. Pemeriksaan Fungsi Hati
Hati terlibat dalam metabolisme berbagai zat dan memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh.
Gangguan hati tertentu dapat berlangsung tanpa gejala jelas pada tahap awal. Pada kondisi tertentu, keluhan seperti mudah lelah, mual, penurunan nafsu makan, atau rasa tidak nyaman di perut dapat muncul.
Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan enzim hati dan parameter lainnya jika terdapat alasan klinis yang mendukung.
7. Pemeriksaan Zat Besi dan Vitamin Tertentu
Tidak semua rasa lemas disebabkan oleh kekurangan vitamin.
Namun, pada kondisi tertentu dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan zat besi, ferritin, vitamin B12, folat, atau parameter nutrisi lainnya.
Pemeriksaan ini biasanya lebih bermanfaat jika terdapat gejala atau faktor risiko yang membuat kekurangan zat tertentu lebih mungkin terjadi.
Mengonsumsi suplemen dosis tinggi tanpa mengetahui apakah tubuh memang kekurangan zat tersebut bukan pilihan yang ideal.
8. Pemeriksaan Jika Ada Dugaan Infeksi atau Peradangan
Infeksi tertentu dapat membuat tubuh terasa sangat lelah bahkan setelah gejala utama mulai membaik.
Pemeriksaan darah dapat membantu memberikan petunjuk mengenai kondisi sel darah atau proses peradangan, tetapi tidak semua infeksi dapat diketahui hanya melalui satu tes.
Dokter akan mempertimbangkan gejala seperti demam, batuk, nyeri, penurunan berat badan, atau keluhan lain sebelum menentukan pemeriksaan yang diperlukan.
Jangan Langsung Melakukan Semua Tes
Semakin banyak pemeriksaan bukan berarti semakin baik.
Tes laboratorium seharusnya dilakukan berdasarkan pertanyaan medis yang ingin dijawab. Pemeriksaan tanpa indikasi dapat menghasilkan temuan yang tidak berkaitan dengan keluhan dan justru membuat seseorang cemas.
Dokter dapat memulai dari pemeriksaan dasar, kemudian menambahkan tes tertentu jika hasil awal atau gejala menunjukkan adanya kebutuhan.
Persiapan Sebelum Pemeriksaan
Tidak semua tes darah membutuhkan puasa.
Jika akan menjalani pemeriksaan, tanyakan terlebih dahulu apakah perlu berpuasa, berapa lama durasinya, dan apakah obat rutin boleh dikonsumsi.
Hindari mengubah pola makan secara ekstrem atau mengonsumsi suplemen dalam jumlah besar hanya sebelum tes karena dapat memengaruhi interpretasi beberapa hasil.
Kapan Lemas Perlu Segera Diperiksa?
Lemas yang berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sebaiknya dibicarakan dengan dokter.
Cari pertolongan medis segera jika lemas muncul bersama nyeri dada, sesak berat, pingsan, kebingungan, kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, perdarahan, atau gejala berat lainnya.
Kesimpulan
Lemas bukanlah sebuah diagnosis. Keluhan tersebut dapat muncul akibat kebiasaan sehari-hari maupun berbagai kondisi medis.
Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap, gula darah, fungsi tiroid, elektrolit, fungsi ginjal, fungsi hati, atau pemeriksaan zat gizi tertentu dapat membantu dokter mencari penyebab sesuai kebutuhan.
Yang perlu diingat, tidak semua orang membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Pemilihan tes sebaiknya berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, serta pertimbangan dokter.
Jika rasa lemas tidak kunjung membaik, jangan hanya mengandalkan minuman penambah energi atau suplemen. Mencari penyebabnya adalah langkah yang lebih bermanfaat agar penanganannya dapat dilakukan secara tepat.
FAQ Seputar Lemas dan Pemeriksaan Laboratorium
1. Apakah sering lemas berarti anemia?
Belum tentu. Anemia memang dapat menyebabkan lemas, tetapi keluhan serupa juga dapat muncul akibat kurang tidur, stres, dehidrasi, gangguan tiroid, infeksi, gangguan gula darah, dan berbagai kondisi lainnya.
2. Tes darah apa yang paling umum untuk mencari penyebab lemas?
Pemeriksaan darah lengkap sering menjadi salah satu pemeriksaan awal. Tes lain seperti gula darah, fungsi tiroid, elektrolit, fungsi ginjal, atau fungsi hati dapat ditambahkan sesuai kondisi.
3. Apakah harus puasa sebelum tes darah?
Tidak semua pemeriksaan membutuhkan puasa. Kebutuhan puasa bergantung pada jenis tes yang dilakukan. Pastikan mengikuti instruksi dari dokter atau laboratorium.
4. Apakah kekurangan vitamin selalu menyebabkan tubuh lemas?
Kekurangan zat gizi tertentu dapat berhubungan dengan kelelahan, tetapi lemas memiliki banyak kemungkinan penyebab. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika terdapat alasan medis yang mendukung.
5. Bolehkah minum suplemen sebelum pemeriksaan laboratorium?
Sebaiknya beri tahu dokter atau petugas laboratorium mengenai semua suplemen yang dikonsumsi. Jangan mengubah atau menghentikan penggunaan suplemen maupun obat tanpa arahan.
6. Kapan rasa lemas perlu diperiksa?
Periksakan diri jika lemas berlangsung lama, sering berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
7. Apakah hasil laboratorium yang normal berarti tubuh pasti sehat?
Tidak selalu. Pemeriksaan laboratorium hanya memberikan informasi mengenai parameter tertentu. Kondisi kesehatan tetap perlu dinilai berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan lain jika diperlukan.
